Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama

Indeks Artikel
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Page 2
Semua Halaman
AddthisAddthis
PENDAHULUAN

ImageImageSERING orang tua bertanya, mengapa watak, kemampuan, dan perilaku  anaknya yang sekarang sekolah di  SMA ”tiba-tiba” tampak berbeda dengan teman-teman lainnya, padahal ia mengalami masa kecil yang sama dengan teman-teman pada umumnya? ”Bukankah anakku juga minum susu, makan nasi, daging, juga buah dan sayur, plus ice cream, bahkan multi vitamin?”

Pertanyaan itu terus berlanjut. Mengapa anak tetanggaku jadi anak penurut sedang anakku sangat pemberang, anak tetanggaku selalu tersenyum sedang anakku selalu cemberut, anak tetanggaku bisa sangat bandel sedangkan anakku mudah menangis, anak tetanggaku bisa menyanyi dengan suara merdu sedang anakku bersuara sumbang, anak tetanggaku bisa pintar melukis sedang anakku suka mebuat grafiti di tembok rumah? Anak tetanggaku selalu menjadi juara kelas sementara anakku suka tawuran? Apakah ini karena takdir? Kalau begitu mengapa takdir baik selalu jatuh pada orang lain, sementara takdir jelek selalu pada diri saya?
Pertanyaan gugatan di atas mencerminkan, bahwa kita  lebih suka melihat kepada hasil yang dicapai daripada proses. Kita sering tidak peduli pada proses karena maunya cepat jadi atau ingin instan, maka yang ditempuh adalah jalan pintas. Hasilnya adalah anak seolah-olah bisa; padahal yang terjadi adalah sesuatu yang semu, palsu dan lebih pada ambisi orang tua, bukan kebutuhan anak.


Seperti apa anak setelah dewasa, atau ketika memasuki masa belajar di SMA, SMP bahkan masih di SD, sesungguhnya amat bergantung pada bagaimana orang tua mengasuh anak pada usia lima tahun pertama. Masa ini adalah masa kegemilangan ruang intelektual, emosi, spiritual dan motorik anak, sehingga para ahli anak menyebutnya sebagai masa golden age. Para peneliti menyimpulkan pembentukan intelegensia seorang indivisu 50 % berlangsung pada usia 1-4 tahun, hingga usia 8 tahun menjadi 80 % dan mencapai 100 % pada usia 18 tahun.


Comments  

 
0 #3 bunda ali 2010-10-21 03:45
Artikelnya bagus, membuka wawasan para ortu. Ada yg bs bantu ksh solusi ke saya..? Krn saya mempunyai anak pertama yg kurang mandiri, agak manja, ketergantungann ya tinggi.
Quote
 
 
0 #2 irwan 2010-10-10 19:02
Gimana anak dibawah umur korban perceraian yang di monopoly ibunya apakah bisa dituntut sebab masih pada usia golden age kalau iya kemana?
caranya?
bahkan pengacara pun gak tahu
Quote
 
 
0 #1 komunitas Bloggers 2010-07-22 12:23
Yah benar..
anak itu biasanya encerminkan perilaku / kebiasaan orangtua
seperti anak saya,,
tingkah lakunya seperti rangtuanya
begitu pula dengan anak oranglain..
jadi semua itu butuh proses yg sangat berat bagi orang tua
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh