Mengatasi Kemiskinan

Artikel

AddthisAddthis
Tema kemiskinan telah cukup lama menjadi perhatian. Di negeri ini, kemiskinan tetap menjadi fokus isu yang belum terselesaikan. Sayangnya, ide atau gagasan yang muncul untuk mengatasi masalah ini selalu saja kurang menyentuh akar persoalan. Begitupun program yang ada belum mampu mengatasi problematika sosial ini secara tuntas. Faktanya, angka kemiskinan masih tinggi. Peringatan Hari Penanggulangan Kemiskinan sedunia tiap 17 Oktober mestinya dapat mengingatkan semua pihak untuk berkomitmen mengatasi masalah ini.

Berdasarkan data Bappenas (2009), jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 32,5 juta orang (14,15 %) dari total penduduk negeri ini. Dibandingkan dengan 2008, angka itu mengalami sedikit penurunan yang berjumlah 35 juta orang (15,4 %). Kemiskinan ini biasanya juga berimbas kepada masalah lainnya, baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun perlindungan anak.

 Menurut Laporan Pembangunan Manusia (HDR) UNDP 2007/2008, rata-rata pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia 119 dolar AS pada 2004. Angka ini merupakan yang terendah di negara-negara ASEAN lainnya. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 402 dolar AS dan Thailand 293 dolar AS. Di samping itu, rata-rata pengeluaran kesehatan per kapita di Indonesia baru mencapai 2,2% dari PDB, jauh lebih rendah dari rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni sedikitnya 5% dari PDB.

Angka kematian bayi pada 2007 sebesar 44 per 1.000 kelahiran hidup. Di samping itu, masih ada 28% balita di seluruh pelosok negeri yang belum memperoleh akses terhadap imunisasi. Ini berarti ada sekitar satu juta balita yang rentan terkena penyakit menular yang dapat pula mengakibatkan kematian. Sementara itu, Angka Kematian Ibu (AKI) masih mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup (2007).

Tujuan pembangunan

Penanggulangan kemiskinan sebenarnya telah menjadi komitmen global. Sebanyak 189 kepala negara dan pemerintahan, termasuk Indonesia, 9 tahun lalu telah mendeklarasikan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs). Komitmen itu terdiri atas delapan tujuan yang harus dicapai pada 2015, yakni upaya menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, pendidikan dasar untuk semua, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.

Mengatasi kemiskinan menjadi tujuan pertama dari MDGs, yakni upaya untuk mengurangi proporsi jumlah penduduk miskin dengan pendapatan di bawah satu dolar AS per hari hingga separuhnya dalam kurun waktu 1990-2015. Termasuk dalam tujuan ini, antara lain upaya menciptakan lapangan kerja yang optimal, produktif, serta layak, termasuk bagi perempuan dan kaum muda. Ke depan, mestinya dapat diupayakan strategi pembangunan yang mampu menghilangkan kesenjangan baik antargolongan maupun wilayah, serta kebijakan yang mampu menumbuhkan potensi dan ekonomi di tingkat lokal.

Aksi bersama

Pada akhirnya, penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya sekadar menjadi bahan kajian, studi, atau isu kampanye. Kemiskinan harus diatasi melalui langkah-langkah konkret. Diperlukan pendekatan baru serta inovasi.

Pertama, kita telah memiliki para wakil rakyat yang duduk di kursi DPR dan DPD Periode 2009-2014. Sebentar lagi juga akan diumumkan susunan anggota kabinet SBY-Boediono. Mengatasi kemiskinan di atas harus menjadi tugas pertama yang dapat mereka tuntaskan. Program-program yang sudah ada, seperti BLT, PNPM mandiri, KUR, dan lain-lain harus dievaluasi secara menyeluruh dan diuji tingkat keefektifannya. Selanjutnya, dirancang program-program baru yang benar-benar efektif dan efisien.

Kedua, tugas pemimpin adalah mendidik bangsa ini untuk bermental "tangan di atas". Pemimpin berperan melakukan transformasi sosial. Ia harus mampu memberi contoh dan teladan. Pemimpin tidak hidup bermewah-mewah, apalagi korupsi. Kemiskinan dapat diatasi jika mental bangsa dapat diubah dari mental konsumtif menjadi produktif. Budaya malas dan peminta diubah menjadi karakter pejuang, pekerja keras, disiplin, dan kebiasaan untuk memberi, berbagi, dan malu meminta-minta. Karakter ini tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Harus ada rekayasa sosial dan ketegasan dari pemimpin. Saya yakin bangsa ini dapat didorong untuk menumbuhkan karakter yang positif itu, sekali lagi, asal ada contoh dari pemimpinnya.

Ketiga, peran semua pihak untuk terlibat dalam penanggulangan kemiskinan. Tokoh agama dapat berperan untuk menebarkan nilai-nilai agama yang memberikan semangat. Mereka dapat memotivasi masyarakat untuk bekerja giat dan tidak putus asa. Media massa dapat berperan aktif untuk menebarkan spirit kewirausahaan dan budaya inovasi. Para pemimpin informal, pengusaha, artis, seniman, budayawan, pendidik, dan lain-lain dapat pula menjadi motivator dan inspirator yang bertujuan sama, yakni memberi semangat bagi warga bangsa untuk bangkit dan menegaskan bahwa harapan itu masih ada.***

Sumber : Opini Pikiran Rakyat, 17 Oktober 2009

 

Add comment


Security code
Refresh