Kisah Joni dan Gunung Es HIV/AIDS
Sebut saja Joni (bukan nama sebenarnya). Pria berusia 34, warga RT 07/03, Angke, Tambora, Jakarta Barat, ini selalu datang paling awal ke Klinik Metadon, Angke, Tambora, Jakarta Barat. Baru pukul 11.00 WIB, Selasa (1/12), nama Joni sudah tercatat di buku kehadiran klinik.
Joni adalah salah satu pengguna narkotika jarum suntik, yang ujung-ujungnya terinfeksi HIV/AID. Mereka hanya mendapatkan pelayanan seadanya. Maklum, di klinik itu hanya terdapat empat dokter, empat perawat, dan dua kader muda. Itu pun harus dibagi karena sistem jaga bergantian. Ditambah waktu yang relatif singkat untuk konsultasi, per pasien hanya lima menit hingga 15 menit, jadilah hanya sebagian kecil para pengunjung yang menyempatkan diri untuk konsultasi, yaitu rata-rata 20 orang per hari.
Apa pun, Joni mengaku beruntung mendapatkan klinik yang dapat menggantikan ketergantungannya akan narkotika jenis putau. Menurut ayah dua anak itu, per hari ia harus meminum metadon agar ketagihannya tak menjadi. Jika tidak, fatal. ''Badan pegal-pegal dan pikiran tidak tenang,'' tutur pria yang tujuh tahun tenggelam dalam putau.
Ketika itu, kisahnya, mampu menghabiskan seperempat gram putau setiap hari. Sejak dinihari, ia harus berburu putau hanya untuk meredam rasa sakit di sekujur tubuhnya. Joni mengonsumsi zat haram itu dengan jarum suntik, terakhir secara bergantian. Sampai pada 2005, ada sebuah penyuluhan di Angke. Joni pun resah setelah tahu pemakaian jarum suntik bergantian bisa tertular HIV/AIDS.
Sedikit terlambat, saat diperiksa lewat Voluntery Consuling and Testing (VCT) di Klinik Metadon, 2008 lalu, Joni divonis positif terinfeksi virus HIV/AIDS. ''Waktu itu, saya bingung harus bagaimana,'' ungkapnya. Ia pun segera konsultasi kepada konselor di Klinik Metadon.
Joni mengaku belum memberi tahu istri dan anaknya tentang statusnya tersebut. ''Saya belum siap,'' tuturnya. Syukurnya, menurut Joni, istri dan dua anaknya negatif HIV/AIDS. Joni hanyalah cerminan dari 2.810 kasus HIV/AIDS (berdasarkan laporan Dirjen PPL dan PL Depkes RI per Juni 2009) di Ibu Kota. Menurut Koordinator Klinik Metadon Tambora, dr Darus Sahmedi, umumnya pasien tersebut terinfeksi HIV/AIDS memang karena jarum suntik yang dipakai bergantian. Hanya 10 persen sisanya yang tertular lewat hubungan seksual.
Namun, jika menilik data Departemen Kesehatan (Depkes), saat ini terjadi pergeseran pola penyebaran HIV/AIDS. Dari jumlah penderita di seluruh Indonesia sejak 1980-an hingga September 2009, yang tercatat mencapai 18.442 penderita. Ini, boleh jadi hanya permukaan gunung es alias jumlah yang tercatat. Lazimanya, ini hanya 5-10 persen dari jumlah keseluruhan. Dari jumlah tercatat itu hampir 50 persen terjadi melalui hubungan seksual. Penyebaran melalui jarum suntik mencapai 40,7 persen. Data tersebut memperlihatkan kini penyebaran terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi penggunaan jarum suntik. Dari sisi usia, rentang usia tertinggi berada di usia produktif, 20-39 tahun. Sampai 2010, diprediksi kasus terinfeksi HIV/AIDS mencapai 90 ribu sampai 130 ribu kasus.
Prediksi itu jelas mencerminkan HIV/AIDS telah dan masih akan menjadi pandemi mengerikan, baik bagi kesehatan, sosial ekonomi, bahkan politik. Di negara seperti Afrika, HIV menurunkan harapan hidup lebih dari 20 tahun, menghambat pertumbuhan ekonomi dan memperberat kemiskinan. Di Asia, yang prevalensi HIV jauh di bawah prevalensi di Afrika, penurunan produktivitas akibat HIV lebih besar dibanding akibat penyakit lain.
HIV juga dikahwatirkan akan menambah jumlah angka kemiskinan dunia sebesar enam juta kepala keluarga, hingga 2015, apabila upaya pengendalian masing-masing negara tidak segera diperkuat.
Laju infeksi masih terus meningkat di beberapa negara, termasuk Jerman, Mozambiq, Rusia, Ukraina, Inggris. Prevalensi HIV masih tetap sangat tinggi di Lesotho, Namibia, Afrika Selatan, dan Swaziland. Menurut WHO, wilayah Asia-Pasifik memikul beban terberat kedua setelah Afrika, dengan perkiraan 4,9 juta ODHA dan 95 persen di antaranya berada di sembilan negara Asia, yaitu: kamboja, Cina, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Papua New Guinea (PNG), Thailand, dan Vietnam.
Masalahnya, khusus di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai pemerintah masih kurang serius dalam menanggulangi HIV/AIDS. Ketua KPAI, Hadi Supeno, menyatakan, kenyataan tersebut cukup memalukan padahal sejumlah negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina bisa menekan angka penderita AIDS dalam tiga tahun terakhir.
''Saat ini jumlah penderita di Indonesia mencapai sekitar 18 ribu,'' ujarnya. Jumlah penderita anak-anak juga mengalami peningkatan. Dalam waktu lima tahun jumlah anak-anak penderita HIV/AIDS di Indonesia meningkat hingga 400 persen. Pada 2004 silam jumlahnya hanya 150 orang, namun saat ini terdapat 655 anak, yang tersebar di Jawa Barat, DKI, Papua, Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Fakta itu, katanya, mengungkapkan virus tersebut telah menjangkau ke wilayah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. ''Sangat ironis, anak-anak tidak tahu apa pun tetapi harus menderita karena prilaku salah dari orang tua,'' katanya.
Untuk mengatasi penuyebaran penyakit AIDS, KPAI meminta pemerintah daerah melakukan langkah-langkah nyata. ''Pemerintah pun harus memberikan kewenangan yang lebih luas kepada Komisi Penanggulangan AIDS Nasional agar bisa mengambil keputusan cepat dalam menanggulangi penyebaran virus HIV/AIDS,'' katanya.
Penanggulangan AIDS tentunya bukan tanggung jawab pemerintah sendiri, tapi melibatkan semua sektor, termasuk pihak swasta. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes, Tjandra Yoga Aditama, menegaskan saat ini Depkes lebih memfokuskan diri pada penyembuhan AIDS. Namun, tetap melakukan penyebaran informasi dan kegiatan bersifat pencegahan (preventif). Ia menjelaskan, saat ini seluruh penderita HIV/AIDS mendapatkan ARV gratis dan obatnya juga ditanggung pemerintah. Pemerintah juga akan meninggikan kadar CD4 (indikasi seseorang sejauh mana terinfeksi virus HIV/AIDS) dari 200-an menjadi 350.
Di mana makin tinggi kadar CD4 penderita HIV itu berarti makin sehat pasien tersebut. Dengan demikian, pasien yang membutuhkan terapi ARV akan menjadi lebih banyak. ''Antisipasinya sedang kita siapkan matang-matang,'' tukas Tjandra. Untuk penderita AIDS yang semakin bertambah, pemerintah mengupayakan agar tempat pemeriksaan dan konseling sukarela semakin banyak.
Setidaknya bagi pekerja di lingkungan masing-masing. ''Bagi perusahaan, pemerintah membutuhkan dukungan penjaminan biaya pengobatan ARV bagi pekerja saat diperlukan,'' ujarnya. Memecah permukaan gunung es adalah tugas bersama pemerintah dan swasta. Yang penting dijaga adalah mencegah bertambahnya joni-joni baru. C01/c09/una ed: agung p
Sumber; Republika Online
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Tentang KPAI
Publikasi
Download





