Korban Anak Alami Trauma

Publikasi - Berita KPAI

AddthisAddthis

Jakarta, Kompas - Korban kerusuhan Koja, Jakarta Utara, dari kelompok anak-anak masih trauma. Mereka takut keramaian karena telah membuat mereka terluka. Mereka juga masih mengingat kata-kata ”bakar, bakar, dan bakar”.

Tim Investigasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia meminta agar ada yang bertanggung jawab terhadap kondisi psikologis anak-anak itu. Sebagian dari mereka terlibat kerusuhan karena dorongan orang lain, sebagian terjebak di dalam kerusuhan.

”Siapa pun tak boleh mengajak anak-anak dalam tindak kekerasan. Jika terbukti, harus ada yang bertanggung jawab dengan kondisi mereka sekarang,” ujar Koordinator Tim Investigasi Kasus Koja dari KPAI Sander Diki Zulkarnaen, Rabu (28/4) di kantor Palang Merah Indonesia, Jakarta.

Dalam peristiwa kerusuhan Koja, ada 17 korban anak-anak berusia di bawah 17 tahun. Mereka dirawat di RSUD Koja (15 orang), RSUD Tarakan (1), dan RS Cipto Mangunkusumo (1).

Saat bertemu dengan tim KPAI, tim PMI mengumumkan data baru jumlah korban kerusuhan Koja. Total jumlah korban 203 orang, yakni 29 luka berat, 25 luka sedang, 146 luka ringan, dan 3 tewas. Sumber seluruh data korban berasal dari 12 rumah sakit di seluruh DKI Jakarta.

Tim Pencari Fakta (TPF) DPRD DKI Jakarta bersiap menuju Palembang untuk mengumpulkan data dan menemui ahli waris Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad alias Mbah Priuk.

”Kami melibatkan ahli sejarah dan ahli waris Mbah Priuk untuk menentukan keabsahan makam dan kepemilikan tanah yang menjadi sengketa. Kami mendapat data administrasi dan dokumentasi tentang pemindahan makam itu dari dinas pemakaman,” kata Lulung Lunggana, Ketua TPF DPRD DKI.

TPF menemukan adanya kesalahan koordinasi di antara aparat keamanan dan penyesatan informasi kepada warga. Ada juga laporan 3.113 anggota pasukan berani mati di areal makam.

”Kami mengundang polisi, PT Pelindo II, dan TNI untuk melengkapi hasil penyelidikan. Kami juga menyelidiki apakah polisi meminta bantuan TNI saat kerusuhan meluas dan tidak terkendali,” kata Lulung.

Kepala Satpol PP DKI Harianto Badjoeri menegaskan, pihaknya tidak melanggar hak asasi warga saat penertiban areal makam karena mereka bekerja sesuai prosedur. Jadi, satpol PP bersedia membantu semua pihak yang menyelidiki kasus itu.

Untuk menghilangkan trauma masyarakat dan aparat pascabentrokan di sekitar makam Mbah Priok, Gubernur DKI Jakarta bersama muspida dan masyarakat setempat akan membersihkan lokasi kerusuhan, Jumat besok. Kegiatan itu diikuti 3.000 orang untuk membersihkan lokasi bekas bentrokan di Jalan Dobo, Jampea, dan sekitarnya

Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sugiyono berharap kejadian itu tidak terulang lagi dan tidak menjadi trauma bagi warga, khususnya masyarakat Jakarta Utara. ”Pelajaran berharga bagi aparat pemerintah,” katanya.(NDY/ARN/ECA/ART)

Sumber : kompas cetak

Add comment


Security code
Refresh