Kapoltabes Yakin ‘Si Codet’ Dibekuk
DENPASAR, NusaBali Sabtu Kasus pemerkosaan berantai yang menimpa sejumlah bocah SD di wilayah Monang-Maning, Denpasar dan sekitarnya, hingga kini pelakunya belum terungkap. Namun demikian, ada keyakinan dari orang nomor satu di Poltabes Denpasar kalau pelakunya 100 persen akan tertangkap. Hanya saja, belum dipastikan pelaku yang mempunyai ciri codet di wajahnya itu akan dibekuk.
Keyakinan itu diungkapkan oleh Kapoltabes Denpasar Kombes Gede Alit Widana, menurutnya pihaknya kini sudah mengantongi identitas pelaku. “Kita tinggal mencocokkan identitasnya dengan para korban, kalau sudah cocok langsung kita tangkap orangnya,” katanya disela-sela pertemuannya dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat, Jumat (30/4) siang di Mapoltabes Denpasar. Untuk itu mantan Kapolres Tabanan ini, yakni 100 persen pelakunya bakal tertangkap. “Yakin 100 persen bakal tertangkap,” jelasnya. Ditanya indikasi keyakinan itu, ia hanya menyebut yakin dengan beberapa data yang sudah dikantonginya, seperti ciri-ciri codet yang sama. “Kalau sudah pasti, nanti tinggal jemput saja,” paparnya didampingi Ketua KPAI Pusat Hadi Supeno, beserta wakil Ketua KPAID Bali Luh Anggraeni. Namun ditanya sekarang pelaku dimana, Kapoltabes hanya menyebut kalau pelaku sekarang semakin menjauh. “Sekarang tempatnya agak jauh,” ulasnya yang tidak menyebut dimana lokasi terakir pelaku. Untuk target penangkapan terhadap warga yang diduga pelaku, ia menyebut secepatnya. “Mudah-mudahan cepat terungkap, doanya saja, dan target kita kasus ini (pemerkosaan bocah,red) tidak terjadi lagi,” pungkasnya. Sementara itu, di tempat yang sama, Ketua KPAI, Hadi Supeno, mengatakan pihaknya tetap menaruh harapan kepada polisi agar kasus pemerkosaan terhadap anak-anak di Bali dapat tertangkap. “Kapoltabes sudah yakin 100 persen dapat tertangkap, sekarang kita tinggal menunggu realisasi 100 persen itu,” jelasnya didampingi sejumlah pengurus KPAI Pusat dan Bali.
Kedatangan rombongan KPAI itu juga untuk memastikan perkembangan penyidikan kasus tersebut, serta kondisi para korban. “Alhamdulillah, anak-anak korban pemerkosaan sudah bisa diterima dan sekarang sudah kembali lagi ke sekolahnya, karena di tempat lain biasanya mereka ini tidak diterima,” ungkapnya. Sementara itu untuk kasus pemerkosaan yang menimpa anak-anak di Bali, khususnya di wilayah Monang-Maning dan sekitarnya, pihaknya merasa prihatin. Pasalanya, dalam kurun waktu tiga bulan saja sudah menimpa banyak bocah yang jadi korban. Ia menyebut untuk peringkat kasus korban kekerasan seksual seperti pemerkosaan tertinggi berada di wilayah NTT. “Tapi Bali jadi luar biasa karena kejadian ini terjadi secara berantai, ini kejadian yang fenomenal,” urainya. Untuk itu secepatnya kata dia, kepolisian bisa menuntaskan kasus tersebut. “Kita juga perlu berikan apresiasi kepada kepolisian karena cukup sigap turun langsung ke sekolah-sekolah,” jelasnya. Terkait dengan fenomena kekerasan seksual terhadap anak, ia menyebut ada beberapa faktor, salah satunya adalah lewat media seperti internet, serta tontonan kekerasan seperti film. “Karena dari survei, ternyata 65 persen anak laki-laki akan cenderung melakukan hal yang sama dengan apa yang dilihatnya,” paparnya. Untuk itu perlu pendampingan dan tontonan yang mendidik. 7 h
Sumber: nusadua bali
Tentang KPAI
Publikasi
Pengaduan
Webmail
Kontak Kami













