Jumat September 10 , 2010
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah Lembaga Independen yang kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara yang dibentuk berdasarkan amanat Keppres 77/2003 dan pasal 74 UU No. 23 Tahun 2002 dalam rangka untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia. Lembaga ini bersifat independen, tidak boleh dipengaruhi oleh siapa dan darimana serta kepentingan apapun, kecuali satu yaitu “ Demi Kepentingan Terbaik bagi Anak ” seperti diamanatkan oleh CRC (KHA) 1989.

96% Anak Indonesia Punya Pengalaman Buruk di Internet

Jakarta - Para orangtua sebaiknya lebih memperhatikan lagi aktivitas online anak-anaknya. Sebab, berdasarkan riset dari Symantec, perusahaan keamanan internet, 96% anak di Indonesia punya pengalaman buruk dengan konten negatif di internet.

Konten negatif yang dimaksud tak lain adalah konten dari situs pornografi, kekerasan, perjudian, hingga konten-konten dewasa lain yang belum saatnya diakses oleh anak-anak. Demikian menurut Effendy Ibrahim, Internet Safety Advocate & Cosumer Bussines Lead untuk Symantec Asia.

"Tiga dari sepuluh orangtua tidak waspada akan konten yang dikonsumsi anak-anak mereka saat online," papar Ibrahim dalam presentasi Norton Online Family Report 2010 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (1/7/2010).

Effendy mengaku, laporan ini bukan untuk menakut-nakuti orangtua, namun lebih ditujukan untuk memperingatkan para orangtua agar lebih menjalin komunikasi dengan buah hati mereka saat mengkonsumsi konten internet.

Terlebih, saat ini rata-rata anak menghabiskan sekitar 64 jam untuk online setiap bulannya. Berdasarkan data Symantec, hanya satu dari tiga orangtua di Indonesia yang memantau konten-konten yang dikonsumsi anak-anak mereka.

Sayangnya, meski orang tua mengetahui kegiatan yang dilakukan anak-anak, mereka masih belum bisa menjalin komunikasi dengan baik terhadap anak. "Beberapa anak pasti mengira bakal dimarahi saat ketahuan mengakses situs dewasa. Seharusnya para orangtua membuka komunikasi dengan hangat dan terbuka," jelas Effendy.

Pada riset itu juga diketahui bahwa konten negatif yang beredar di internet sedikit banyak mempengaruhi sisi emosional anak-anak. Ada yang merasa marah (53%), kecewa (40%), terganggu, kaget, atau khawatir (semuanya 38%) karena telah melihatnya.

Peran Orangtua

Lalu bagaimana seharusnya sikap orangtua menanggapi hal ini? Orangtua tentu memiliki peranan penting terkait pemahaman konten-konten yang ada di internet.

Menurut Effendy, kombinasi antara teknologi dan cara berkomunikasi terhadap anak adalah hal yang paling penting. Pendekatan preventif jauh lebih baik ketimbang represif dengan sikap menghardik.

Selain itu, orangtua dan si anak juga harus membuat peraturan bersama tentang tata cara berinternet yang sehat di keluarga. Salah satu caranya bisa menempatkan komputer di tempat-tempat strategis di rumah dan seberapa lama akses internet itu diperbolehkan.

Sementara dari sisi teknis, orangtua bisa memilih software penyaring konten negatif di internet. Sudah banyak software gratis untuk melakukan tindakan pencegahan ini, seperti Norton Online Family yang sudah tersedia dalam 25 bahasa dunia.

Riset ini sendiri melibatkan 499 orang dewasa yang berusia di atas 18 tahun. Dari jumlah itu, 102 orang di antaranya memiliki anak berumur 10-17 tahun. Sementara untuk anak-anak yang disurvei ada 112 orang yang berusia 10-17 tahun, semuanya rata-rata menghabiskan lebih dari 1 jam per minggu untuk mengakses internet. ( fw / ash )

Sumber : Fajar Widiantoro – detikinet (1/7/2010)  

Add comment


Security code
Refresh

KPAI Dalam Berita

ImageBerita KPAI

Berita seputar Kegiatan dan Peran Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam mengatasi permasalahan Anak di Indonesia. Selengkapnya

Kumpulan Artikel PA

ImagePerlindungan Anak

Segmen ini merupakan Kumpulan Artikel Perlindungan Anak yang meliputi Hak, Kekerasan, pornografi, perdagangan Anak dll. Selengkapnya

Press Release KPAI

ImagePress Release

Kumpulan Press Release Kegiatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia diharapkan dapat menjadi media komunikasi yang efektif. Selengkapnya