Bulying Adalah Produk Lingkungan Yang Keras

Publikasi - Berita KPAI

AddthisAddthis

Ketua KPAI Hadi Supeno meminta semua kalangan jangan memojokkan siswa pelaku bulying, karena bulying pada dasarnya produk lingkungan yang keras, baik social, politik, ekonomi, dan budaya.”Kalau mau fair, salahkanlah orang tua, guru dan pemerintah karena merekalah yang menciptakan kondisi menjadikan anak-anak melakukan praktek kekerasan terhadap sesame temannya”ujarnya.

Ia mengungkapkan hal itu ketika menjadi nara sumber  “Penanganan Kekerasan Terhadap anak di Sekolah”, yang diselenggarakan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemda DKI, di Balaikota, akhir pecan lalu.

Hadi menunjukkan fakta bahwa semakin kompleks dan kerasnya kehidupan, semakin tinggi pula angka bulying di dalam masyarakat kita. Itu emnandakan bahwa fenomena bulying bukan sebuah kejadian tunggal, tetapi  impact aplitudo dari lingkungan social yang menekan anak-anak secara psikologis, dan ekspresinya berupa perilaku bulying.

Dalam perspektif perlindungan anak, Ketua KPAI meminta agar sealu emlihat bahwa pelaku bulying adalah korban. Untuk itu berbagai pihak jangan langsung memojokkan anak-anak pelaku bulying.

Untuk meminimalkan tindak kekerasan terhadap anak di sekolah Ketua KPAI yang mantan guru ini menawarkan beebrapa langkah. Pertama, wujudkan konsep Sekolah Ramah Anak. Kedua, tindak tegas bagi pelaku bulying yang dilakukan oleh orang dewasa (guru, orang tua, penyelenggara pendidikan, dan masyarakat). Ketiga, untuk pelaku anak harus dipandang sebagai korban.  Keempat, pendekatan restorative justice sebagai jalan penyelesaian atas kasus-kasus bulying, yakni pemulihan hubungan antara pelaku dan korban, bukan serta merta membawa pelaku kepada aparat hukum.

           

Comments  

 
0 #1 Guest 2010-01-16 09:32
Saya sangat setuju dengan apa yang Bapak paparkan pada tulisan di atas. Tetapi saya masih menganggap itu sebagai ranah ideal (normatif) yang sangat sangat kontras dengan kondisi real di sekolah. Seharusnya Bapak sebagai mantan guru memahami betul kondisi di sekolah dengan tidak menawarkan opsi solusi yang abstrak. betul bahwa anak harus dilihat sebagai korban atau objek. tetapi ketika mereka menjadi pelaku, maka mereka adalah subjek. Kalau Bapak berbicara tentang fairness, lakukan kontrol terhadap tontonan yang mengandung unsur kekerasan yang ada di semua media. Jangan hanya meletakkan label BO pada acara. Bandingkan pendidikan di era Bapak yang syarat dengan kekerasan dan disiplin dengan pendidikan yang mengelu-elukan anti kekerasan. Saya rasa Bapak juga produk dari pendidikan dengan disiplin yang tinggi, bukan kekerasan. Saya juga produk yang sama. Tetapi, tidak pernah melakukan kekerasan. Terimakasih.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh