Jakarta, 8 April 2026 – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menghadiri pengukuhan Prof. Dr. Susanto, MA sebagai Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta yang diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok. Prof. Dr. Susanto merupakan mantan Ketua KPAI periode 2017–2022, yang selama masa kepemimpinannya aktif mendorong penguatan sistem perlindungan anak di Indonesia.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam untuk Membangun Ketangguhan Mental Generasi”, Prof. Susanto menegaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi krisis resiliensi generasi yang serius.
Berdasarkan berbagai data global, satu dari tujuh remaja usia 10–19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia sendiri, sekitar 15,5 juta remaja menghadapi persoalan serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis resiliensi bukan lagi persoalan individual, melainkan ancaman sistemik terhadap masa depan bangsa.
Prof. Susanto juga mengkritisi istilah “strawberry generation” yang dinilai terlalu menyederhanakan persoalan. Ia menawarkan pendekatan “strawberry mentality”, yakni kondisi psikologis individu yang rapuh dan mudah menyerah, yang dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia atau latar belakang.
Menurutnya, jika krisis resiliensi tidak segera ditangani, maka akan berdampak luas, antara lain menurunnya kualitas sumber daya manusia, meningkatnya gangguan kesehatan mental, melemahnya kepemimpinan, serta menurunnya daya saing bangsa.
Sebagai solusi, Prof. Susanto menekankan pentingnya transformasi paradigma pendidikan dengan menjadikan resiliensi sebagai tujuan utama pembelajaran. Hal ini dilakukan melalui penguatan nilai spiritual, pembelajaran berbasis tantangan, pengembangan kemampuan berpikir kritis, hingga pendekatan productive failure yang menempatkan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Transformasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, adaptif, dan berkarakter.
Menutup orasinya, Prof. Susanto menegaskan bahwa pendidikan harus diposisikan sebagai proyek peradaban.
“Jika kita gagal membangun resiliensi, kita akan mewariskan generasi yang rapuh. Namun jika berhasil, kita akan melahirkan generasi yang mampu menghadapi zaman dengan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan,” ujarnya.
Statement KPAI
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, yang turut menghadiri pengukuhan tersebut menyampaikan apresiasi atas capaian akademik Prof. Dr. Susanto, sekaligus mengenang kontribusinya saat memimpin KPAI. “Kami di KPAI merasa bangga dan memberikan apresiasi atas pengukuhan Prof. Dr. Susanto sebagai Guru Besar. Beliau bukan hanya akademisi, tetapi juga pernah memimpin KPAI dengan dedikasi tinggi dalam memperjuangkan perlindungan anak di Indonesia,” ujar Jasra.
Ia juga menegaskan pentingnya isu resiliensi dalam perspektif perlindungan anak. “KPAI memandang bahwa isu kesehatan mental dan ketangguhan anak menjadi salah satu tantangan utama saat ini. Anak tidak hanya membutuhkan perlindungan fisik, tetapi juga penguatan mental dan emosional agar mampu menghadapi berbagai tekanan di era disrupsi,” lanjutnya.
Menurutnya, sistem pendidikan harus menjadi ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. “Pendidikan harus mampu membangun karakter dan resiliensi anak sejak dini. Ini merupakan bagian penting dari perlindungan anak yang komprehensif, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat, adaptif, dan berdaya saing,” tambahnya.
KPAI berharap gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah ini dapat menjadi rujukan dalam penguatan kebijakan pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia. (Kn)













































